Rakyat Menjerit, Negara Membisu: Perlawanan Atas Ketidakadilan Ekonomi

REDAKSI JAWA BARAT

- Redaksi

Sabtu, 7 Februari 2026 - 13:01 WIB

5033 views
facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Aminah Sabil Wartawati nedia online Jawa Barat (ft. Aminah) 

Bogor – Hari ini, rakyat hidup dalam himpitan yang semakin kejam. Harga melambung, pekerjaan menghilang, kebutuhan pokok tak terjangkau, sementara negara sibuk memamerkan keberhasilan semu di layar kaca. Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Dan yang paling merasakan dampaknya adalah rakyat kecil.

Di Bogor, jeritan ekonomi terdengar jelas. Pedagang kecil gulung tikar, buruh dirumahkan, petani tercekik biaya produksi, nelayan kehilangan daya beli, sementara bantuan dan solusi nyata nyaris tak menyentuh akar persoalan. Rakyat lapar, rakyat haus, rakyat kelelahan — namun yang disajikan justru pencitraan dan narasi keberhasilan yang jauh dari kenyataan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Pemberantasan korupsi tanpa keberpihakan ekonomi hanyalah tontonan kosong. Apa artinya menangkapi koruptor jika dapur rakyat tetap tak berasap? Apa makna pidato-pidato megah jika anak-anak bangsa masih putus sekolah dan orang tuanya terjebak dalam kemiskinan struktural?

Presiden dan seluruh jajaran kekuasaan memikul tanggung jawab moral dan konstitusional untuk memastikan kesejahteraan rakyat.

Negara wajib hadir: memberi modal usaha, membuka lapangan kerja, menyediakan hunian layak, menjamin pendidikan gratis, menjamin kesehatan, serta menciptakan lingkungan hidup yang aman dan sehat. Bukan sekadar mengumbar janji dan memoles citra kekuasaan.

Rakyat muak pada simbolisme kosong. Rakyat menuntut perubahan nyata. Sebab, ketika negara gagal memenuhi kebutuhan dasarnya, maka perlawanan rakyat menjadi keniscayaan sejarah.

Jika kekuasaan lebih sibuk mengejar ambisi politik dan target pencitraan, sementara penderitaan rakyat diabaikan, maka sejatinya negara sedang membangun bom waktu sosial. Ketimpangan, kemiskinan, dan ketidakadilan adalah bahan bakar lahirnya konflik.

Indonesia Emas tidak akan pernah terwujud di atas perut kosong dan air mata rakyat. Negeri ini tidak kekurangan kekayaan, yang kurang adalah keberanian berpihak. Bukan rakyat yang bodoh, tetapi sistem yang membuat rakyat terus menjadi korban.

Sejarah selalu mencatat: ketika penguasa menutup telinga, suara rakyat akan berubah menjadi gelombang perlawanan. Dan ketika keadilan tak lagi diberikan, maka ia akan direbut.

Rakyat tidak meminta belas kasihan. Rakyat menuntut haknya.

Penulis : Aminah Sabil

Wartawati Satunews.id

Bogor, 7 Februari 2026

Kontak WA

08xxxxxxxx

Berita Terkait

Klarifikasi dan Permohonan Maaf Redaksi atas Kekeliruan Penulisan Nama Sekolah dalam Pemberitaan Sebelumnya
Sampah Jadi Berkah: Pasar Caringin Sulap 90% Sampah Organik Jadi Pakan Ternak
Sampah Jadi Berkah: Pasar Caringin Sulap 90% Sampah Organik Jadi Pakan Ternak
Rakernas I XTC Indonesia: Bukan Sekadar Rapat, Tapi Momentum Kebangkitan
Diduga Izin Belum Terbit, Bayani Residence Tetap Dibangun dan Jual Unit, Konsumen Terancam Dirugikan
Akses Perumahan di Jalur Sungai Dipersoalkan, BBWS Siap Panggil dan Sanksi Pengembang Bima Land City 3
Poros Mahasiswa Bandung Bergerak Gelar Unras Sikapi MBG dan KMP serta Berbagai Permasalahan
Catatan Akhir Sekolah Gelar Do’a Bersama Pelajar se-Bogor, Perkuat Komitmen Tolak Tawuran dan Narkoba
Tag :

Berita Terkait

Minggu, 15 Februari 2026 - 01:30 WIB

Samsuri, S.Pd.I., M.A. Menjawab Panggilan Sejarah sebagai Calon Presiden RI 2029–2034

Sabtu, 31 Januari 2026 - 22:05 WIB

BRI KC Jakarta Tanjung Duren Dorong Digitalisasi UMKM melalui Akuisisi QRIS

Sabtu, 24 Januari 2026 - 02:20 WIB

Hentikan Framing Negatif Terhadap Menpar Widiyanti Putri Wardhana, Harusnya Mendapatkan Apresiasi

Jumat, 16 Januari 2026 - 20:53 WIB

BNN Bongkar Produksi Vape Narkoba Omzet Rp 18 M, PW GPA DKI : BNN Selamatkan Ribuan Pemuda Dari Bahaya Narkoba

Minggu, 4 Januari 2026 - 02:24 WIB

DPP PW FRN Resmi Tunjuk Agus Suriadi Pimpin DPW Aceh Lima Tahun ke Depan

Kamis, 30 Maret 2023 - 19:21 WIB

Ramadan: A Month of Spiritual Reflection, Devotion, and Charity

Berita Terbaru