Aminah Sabil Wartawati nedia online Jawa Barat (ft. Aminah)
Bogor – Hari ini, rakyat hidup dalam himpitan yang semakin kejam. Harga melambung, pekerjaan menghilang, kebutuhan pokok tak terjangkau, sementara negara sibuk memamerkan keberhasilan semu di layar kaca. Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Dan yang paling merasakan dampaknya adalah rakyat kecil.
Di Bogor, jeritan ekonomi terdengar jelas. Pedagang kecil gulung tikar, buruh dirumahkan, petani tercekik biaya produksi, nelayan kehilangan daya beli, sementara bantuan dan solusi nyata nyaris tak menyentuh akar persoalan. Rakyat lapar, rakyat haus, rakyat kelelahan — namun yang disajikan justru pencitraan dan narasi keberhasilan yang jauh dari kenyataan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Pemberantasan korupsi tanpa keberpihakan ekonomi hanyalah tontonan kosong. Apa artinya menangkapi koruptor jika dapur rakyat tetap tak berasap? Apa makna pidato-pidato megah jika anak-anak bangsa masih putus sekolah dan orang tuanya terjebak dalam kemiskinan struktural?
Presiden dan seluruh jajaran kekuasaan memikul tanggung jawab moral dan konstitusional untuk memastikan kesejahteraan rakyat.
Negara wajib hadir: memberi modal usaha, membuka lapangan kerja, menyediakan hunian layak, menjamin pendidikan gratis, menjamin kesehatan, serta menciptakan lingkungan hidup yang aman dan sehat. Bukan sekadar mengumbar janji dan memoles citra kekuasaan.
Rakyat muak pada simbolisme kosong. Rakyat menuntut perubahan nyata. Sebab, ketika negara gagal memenuhi kebutuhan dasarnya, maka perlawanan rakyat menjadi keniscayaan sejarah.
Jika kekuasaan lebih sibuk mengejar ambisi politik dan target pencitraan, sementara penderitaan rakyat diabaikan, maka sejatinya negara sedang membangun bom waktu sosial. Ketimpangan, kemiskinan, dan ketidakadilan adalah bahan bakar lahirnya konflik.
Indonesia Emas tidak akan pernah terwujud di atas perut kosong dan air mata rakyat. Negeri ini tidak kekurangan kekayaan, yang kurang adalah keberanian berpihak. Bukan rakyat yang bodoh, tetapi sistem yang membuat rakyat terus menjadi korban.
Sejarah selalu mencatat: ketika penguasa menutup telinga, suara rakyat akan berubah menjadi gelombang perlawanan. Dan ketika keadilan tak lagi diberikan, maka ia akan direbut.
Rakyat tidak meminta belas kasihan. Rakyat menuntut haknya.
Penulis : Aminah Sabil
Wartawati Satunews.id
Bogor, 7 Februari 2026
Kontak WA
08xxxxxxxx


















